新闻是有分量的

Misteri HP Aseng,pengendali 1,2 juta butir ekstasi dari Nusakambangan

2017年8月3日上午11:12发布
2017年8月3日上午11:12更新

Barang bukti narkoba jenis ekstasi dan para tersangka dihadirkan dalam rilis kasus narkotik jaringan internasional di Mabes Polri,Jakarta,Selasa(1/8)。 FOTO oleh Sigid Kurniawan / ANTARA

Barang bukti narkoba jenis ekstasi dan para tersangka dihadirkan dalam rilis kasus narkotik jaringan internasional di Mabes Polri,Jakarta,Selasa(1/8)。 FOTO oleh Sigid Kurniawan / ANTARA

CILACAP,印度尼西亚 - Bareskrim Mabes Polri berhasil menggagalkan penyelundupan 1,2 juta butir ekstasi yang diduga berasal dari Belanda pada Jumat,21 Juli 2017。

Selain menyita 1,2 juta butir ekstasi,Polisi bersama Bea Cukai juga berhasil menangkap dua pelaku,yakni An Liu Kit Cung别名Acung dan Erwin。 Satu tersangka lainnya,Zulkarnaen,tewas ditembak。

Namun Acung dan Erwin diduga bukan bandar dari 1,2 juta butir ekstasi tersebut。 Ada pemain lain yang lebih besar。 Sebab,saat diperiksa,Acung dan Erwin mengatakan mereka hanya diperintah seseorang bernama Aseng。

Baca:

Belakangan diketahui jika Aseng yang dimaksud adalah penghuni Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan,Cilacap。

Pertanyaan besar pun muncul,bagaimana mungkin seorang narapidana,di Nusakambangan yang terkenal sangat ketat pula,bisa mengontrol peredaran ekstasi hingga ke Jakarta?

Kepala Badan Nasional Narkotika Kabupaten(BNNK)Cilacap Triyatmo pun menelusuri jejak 1,2 juta ekstasi hingga ke Nusakambangan。 Sekedar informasi,Nusakambangan adalah daerah 空白区域别名减去sinyal telepon。

Sehingga ada dua cara yang mungkin digunakan Aseng untuk mengendalikan barang haramnya,yakni melalui kurir atau dengan menggunakan telepon satelit。 Bisa juga kombinasi keduanya。

Hasil razia yang digelar BNN Cilacap,Polres Cilacap dan Kemenkumham memang menemukan alat komunikasi berupa handphone(HP)di sel napi narkoba。

“Handphone yang kami temukan itu tidak menggunakan operator selular.Tidak pakai simcard.Tidak ada catatan kotak masuk-keluar atau panggilan masuk-keluar di handphone itu.Jadi ada kemungkinan itu pakai satelit,”kata Triyatmo。

Meski begitu,Triyatmo tak ingin gegabah menyimpulkan Aseng menggunakan telepon satelit untuk mengontrol jutaan butir ekstasinya。 Sebab,saat ini,tim gabungan masih menyelidikinya。

Lolosnya telepon genggam ke sel narkoba menjadi pekerjaan rumah lainnya bagi pengelola Lapas。 Menurut Triyatmo,selama ini tim gabungan selalu menempatkan personel bersamaan dengan jadwal besuk napi。

Setiap barang bawaan pembesuk tak luput dari penggeledahan petugas。 Sehingga lolosnya telepon seluler ke dalam Lapas menjadi tanda-tanya besar。 “Dua-duanya bisa jadi dipakai,baik telepon satelit maupun kurir,”kata Triyatmo。

Dua pejabat Kemenhuk HAM dimutasi

Kepala Bagian Publikasi Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan(Ditjen PAS)Kemenkumham,Syarpani,tak menampik temuan satu unit telepon genggam di kamar yang ditempati Aseng。

Pihaknya bahkan langsung membentuk tim untuk mengusut lolosna telepon selular tersebut ke dalam sel sekaligus mengusut dugaan pengendalian narkoba dari dalam Lapas。

Termasuk,melakukan pemeriksaan terhadap petugas serta merazia kamar Lapas untuk menemukan barang-barang terlarang di dalamnya。 “Keberadaan handphone di dalam kamar Lapas itu sudah jelas pelanggaran,”katanya。

Berdasarkan ketentuan UU Nomor 12 Tahun 1995 Pasal 47 ayat 1,hukuman disiplin bagi Aseng yang kedapatan menyimpan ponsel adalah diisolasi di ruang khusus selama 12 hari,atau bisa diperpanjang。

Selain itu,hak-hak napi Aseng di antaranya hak remisi dan besuk keluarga dicabut hingga waktu yang tak ditentukan。

Selain itu Kakanwil Kemenkum HAM Jateng Bambang Sumardiono dan Koordinator Lapas se Nusakambangan dan Cilacap Abdul Aris baru-baru ini juga dimutasi ke wilayah kerja baru。

Namun Syarpani mengatakan jika mutasi tersebut terkait dengan bobolnya Lapas Nusakambangan sebagai tempat pengendali jaringan narkoba oleh napi di dalamnya。

“Mereka mutasi sejajar.Rotasi itu hal yang wajar di Kementerian untuk penyegaran.Tidak ada hubungannya dengan masalah itu,”katanya。

-Rappler